Saluang S (ed). 2010. Antologi Puisi Agraria Indonesia. Yogyakarta, STPN Press dan Sajogyo Institute.


Buku ini terbilang yang pertamakali di Indonesia, sebuah antologi puisi khusus bertemakan masalah-masalah agraria yang riil di lapangan. Usaha ini diinisiasi oleh beberapa pegiat di Sajogyo Institute, dan kemudian menjali kerjasama penerbitan bersama STPN Press Yogyakarta. Dikata-pengantari oleh rektor STPN, dan epilog oleh seorang sastrawan sufi Indonesia, Abdul Hadi WM.

Yang paling menarik dari buku ini adalah biografi penulisnya, yang terdiri dari segala usia dan tanpa memandang latar belakang sosial tertentu, kecuali, semua sama-sama pernah mengalami maslaah agraria rill dalam hidupnya. Cukup fantastis, mereka yang tampil dengan bobot pengalaman individual itu justru didominasi oleh usia sekolahan dari SD ampai SMA. Sebagan kecil dari orang-orang dewasa. Semuanya adalah pelaku dari berbagai kerumitan agraria di negeri ini. Mungkin itulah kelebihan bahasa puisi, semua umur bisa setara dalam ungkapan.

Sayangnya, kegagalan buku ini luput menampilkan catata biografs pendek untuk setiap nama penulisnya, sehinga terkesan anonim. Dengan berbagai kendala teknis maupun non-teknis, kegagalan seperti ini tidak seharusnya terjadi. Hal ini merupakan suatu kegagalan yang sangat krusial untuk sebuah buku karya sastra. Untuk menebusnya, semestinya ada cetak ulang kedua dengan versi yang diperbaiki.

Antologi ini merekam situasi agraria dari beberapa tempat, Ujung Kulon, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kulon Progo, Gorontalo, Makasar, Sapeken, dan Madura. Para penulisnya beragam, mulai dari kelas 4 SD hingga orang-orang dewasa. Semuanya adalah pelaku dari berbagai permasalahan agraria di negeri ini. Asal-usul masing-masing karya tidak kami cantumkan dengan pertimbangan, bahwa setiap ungkapan dalam karya ini masih relevan bagi konteks yang lebih besar. Masih banyak tempat lain dengan kekhasan persoalan agrarianya masing-masing yang belum berhasil dirangkum dalam usaha ini.

Setelah mempelajari semua puisi yang ada, coba dipetakan minat dan pengalaman agraria yang muncul. Sekiranya jika bisa disebut sebagai memori kolektif agraria, karena kesamaan tematik yang ada di berbagai karya. Memori kolektif agraria itu meliputi (yang kami istilahkan), Tanah-tanah basah, Tanah-tanah kerontang, Tanah-tanah urban, dan Tanah-tanah lengang. Ada empat penandaan, “basah”, “kerontang”, “urban” dan “lengang”. Kiranya itulah tematik utama dari diksi-diksi yang terkumpul dalam buku ini, menandai tematik situasi agraria dalam pengalaman pelakunya. Persisnya bagaimana penandaan itu berlaku, pembaca tentu bebas mendeteksi dengan modus pembacaannya sendiri. Selanjutnya, buku ini jelas tidak untuk memberi jalan keluar praktis. Hanya sidang pembaca dapat begitu saja merangkai buku ini agar hadir ke dalam sistem penandaan yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *