Syam M, Aprillia T, Maulana I. 2017. Ekowisata: Sebuah alternatif krisis sosial-ekologis? [Kertas Kerja] Bogor: Sajogyo Institute.

Disaat situasi ekonomi global tak menentu, justru jumlah orang yang berwisata ke luar negeri semakin meningkat. Dalam tahun 2014 terjadi peningkatan sebanyak 5 % dari tahun sebelumnya, dan diperkirakan sebanyak 1.11 milyar orang berpergian untuk kebutuhan melancong ke luar negeri (Bappenas 2016). Serupa dengan Indonesia, disaat situasi ekonomi-politik tak menentu, sektor periwisata menjadi angin segar karena tren postif yang ditunjukan dari pendapatan devisa negara. Sebanyak 11.166,3 juta US$ didapatkan, dengan menempatkan komoditas pariwisata pada poisisi ke empat dalam perolehan devisa negara di bawah komoditas minyak dan gas bumi, batu bara, dan minyak kelapa sawit (Kemenpar 2015).

Data ini langsung disambut oleh Jokowi dengan rencananya yang ingin menciptakan “10 Bali Baru”. Bali dianggap sebagai trade mark wisata Indonesia yang paling unggul. Bali-bali baru tersebut mencakup wilayah Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (Jakarta), Tanjung Kelayang (Bangka-Belitung), Mandalika (NTB), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Komodo (NTT), dan Pulau Marotai (Maluku Utara). Destinasi tersebut merupakan 10 dari 88 Kasawan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang mempunyai karakteristik yang khas masing-masing dan mempunyai prospek tinggi untuk menjadi Bali-Bali lainnya. Ke sepuluh destinasi tersebut merupakan prioritas pengembangan kawasan pariwisata nasional, dengan lindungan Badan Otoritas Pariwisata (BOP) yang ditunjuk langsung melalui Peraturan Presiden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *